Bahasa asing. Yap, salah satu hal yang paling gue sukai di dunia ini adalah bahasa asing. Kenapa? Entah deh. Mungkin karena gue tipikal orang yang seneng ngobrol, or let’s say.. bawel. Ehehehe.
Ketertarikan gue pada bahasa asing dimulai sekitar 15 tahun lalu, saat gue masih berusia 5 tahun dan masih merupakan seorang siswi Taman Kanak-kanak. Saat itu, salah seorang kakaknya ibu gue (a.k.a Bude gue) memberi gue sebuah buku yang (kalo nggak salah) judulnya “500 kata pertamaku”. Buku itu isinya adalah deretan kata-kata sederhana berbahasa Inggris beserta terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Yang bikin gue suka setengah mati sama buku ini adalah gambar-gambarnya yang variatif, warna-warni, terus bagus pula. Buku tersebut dengan suksesnya membuat gue penasaran setengah mati tentang kata-kata apa lagi yang ada di buku-buku lain yang masih harus gue ketahui. Nah, dari buku inilah kecintaan gue dengan bahasa asing bermula.
Kemudian, alhamdulillah, guru-guru yang ngajar Bahasa Inggris selama gue SD sangatlah menyenangkan dan mengerti strategi yang tepat untuk menularkan ilmunya tersebut. Makasih untuk bapak dan ibu guru yang sudah mengajarkan saya main scrabble dan terus-menerus memotivasi saya dan teman-teman untuk terus meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris. Yang paling menarik dari SD gue (I mean, SD gue yang pertama, yang swasta. Soalnya saat kelas 5 gue pindah ke suatu SD negeri) adalah setiap pengumuman kenaikan kelas, ada semacam penghargaan untuk siswa-siswi dengan nilai Bahasa Inggris terbaik di setiap kelas. Waktu itu (kalo nggak salah), Bahasa Inggris baru diajarkan di kelas 4, 5, dan 6 aja. Alhamdulillah, gue sempet masuk ke deretan 3 besar waktu kelas 4 SD. Dan gue dapat hadiah berupa semacam kantung-kantung yang biasa digantung di dinding atau belakang pintu rumah. Gambarnya dalmatians, kartun dengan tokoh utama anjing-anjing dalmatians yang lagi hip banget di saat itu. Dan masih gue simpan sampe sekarang, ehehe.
Di tengah-tengah masa SD, salah satu sepupu gue yang saat itu lagi SMA tiba-tiba ikutan les Bahasa Perancis. Dia rada resek memang, hobi pamer. Tapi dari hobi pamernya itulah gue akhirnya berhasil penasaran sama bahasa itu. Kata pertama dalam Bahasa Perancis yang gue ketahui adalah “deja vu”, yang artinya kira-kira “seperti sudah pernah melihat sebelumnya”. Pernah kan lo sedang berada dalam suatu situasi dan tiba-tiba berpikir begini “wait, kayaknya gue pernah deh kayak gini” atau semacam itu. Nah, itu yang namanya deja vu.
Kemudian gue masuk SMP, dan minat gue terhadap Bahasa Inggris semakin besar. Seneng deh saat guru-guru Bahasa Inggris di SMP juga semakin memupuk minat gue terhadap Bahasa Inggris. Salah satu guru Bahasa Inggris di SMP gue kala itu, Bu Rima, selalu ngasih kata-kata yang bisa memotivasi di setiap kali dia ngasih nilai ujian atau tugas. Contohnya “100 excellent!”, “98, good job”, “75 work harder”, dan sebagainya. Menyenangkan sih, kalo kata gue, karena disamping kita dapet apresiasi atas hasil baik dari yang sudah kita kerjakan, kita juga dapet semangat dan motivasi kalo ternyata hasil kerja kita dinilai belum cukup baik. Dan pendidikan memang semestinya seperti itu kan? Murid yang nilainya kurang baik bukan objek untuk dicaci atau bahkan direndahkan. Justru guru-guru dan orangtua yang harus berperan untuk menaikkan tingkat percaya diri si murid supaya dia percaya dengan kemampuan dirinya sendiri dan bisa terus meningkatkan prestasinya. (belagak pakar pendidikan, hehe).
Saat gue masuk SMA, di SMA Negeri 8 Jakarta, gue mulai dapet pelajaran Bahasa Jerman. Buat gue pribadi, Bahasa Jerman itu unik, aksennya menarik, dan tricky, ahahaha. Frau Kiki sukses membuat gue jatuh cinta sama Bahasa Jerman sejak di bangku kelas 1 SMA. Kemudian, di waktu yang hampir bersamaan, gue ikut ekstrakurikuler Bahasa Perancis. Waktu itu, guru Bahasa Perancis gue yang pertama, Madame Yuni, sukses membuat gue terpesona pada pertemuan pertama dan benar-benar bisa membuat gue jatuh cinta dengan Bahasa Perancis (jatuh cinta lagi? Well, jatuh cinta bisa berkali-kali, kan?
).
Naik ke kelas dua. Bahasa Jerman lanjut, ekskul Bahasa Perancis lanjut (dengan guru yang berbedam kali ini Madame Ella), Bahasa Jepang datang menyapa. Alright then, at first, gue rada-rada bete sama Bahasa Jepang. Kenapa? Karena gue nggak bisa langsung belajar bicara, tapi harus ngafalin huruf-huruf hiragana dan katakana dulu. “Kalo mau lancar ngomong, ambil les Bahasa Jepang yang conversation aja”, mungkin begitulah pikiran sebagian orang. Tapi buat gue, belajar bahasa asing itu nonsense kalo cuma bisa ngomong, tapi nggak ngerti tulisan dan nggak bisa bacanya.
Namun, yang tolol adalah, nilai Bahasa Inggris gue di kelas 1 SMA sempat hancur parah. Kenapa? Karena segitu jarangnya dilatih lagi. Bayangin aja, gue sempet dapet nilah 27 dari skala 100. Hahahaha.. Stupid, eh? Namun akhirnya, dengan berbekal sebuah buku (yang direkomendasikan oleh salah satu guru Bahasa Inggris gue) yang berjudul Understanding and Using English Grammar karangan Betty Schrampfer Azar. Guru gue menjamin kalo kita belajar pake buku ini, ujian TOEFL pasti sukses. Skor TOEFL ITP gue di kemudian hari (baca: 3 tahun kemudian) alhamdulillah mencapai 560. Yah, mohon maaf kalo buat beberapa orang nilai segitu ternyata nggak ada apa-apanya. Namanya juga masih belajar, hehehe.
Setelah perjuangan yang cukup berat, ditambah dengan bantuan seorang teman yang saat itu sedang mengambil program sarjana di Jepang (arigatou, senpai!), akhirnya gue bisa survive juga dalam pelajaran Bahasa Jepang. Nilai Bahasa Jerman gue semakin bagus, tapi sayangnya gue mulai meng-anaktiri-kan Bahasa Perancis. Huaaaaa, maafin saya, madame. Bukannya saya nggak suka lagi sama Bahasa Perancis, tapi waktu itu saya juga lagi sibuk sama urusan OSIS
Dan di kelas 3, gue hanya dapet Bahasa Jepang di semester 1, sementara di semester 2, sudah ditiadakan untuk murid kelas 3. Tapi… Bahasa Jerman tetap eksis di sepanjang masa kelas 3. Bahkan, ada ujian sekolah untuk Bahasa Jerman. Tapi ya alhamdulillah bisa gue lalui dengan baik. Oh ya, Bahasa Inggris juga semakin baik, namun di kala itu, Bahasa Perancis sempat vakum total selama kelas 3. Dan satu lagi, gue jurusan IPA semasa SMA, bukan jurusan Bahasa, hehe. Maaf tidak menjelaskan sebelumnya.
Di masa sekarang, saat gue kuliah, terbukti bahwa bahasa-bahasa asing yang pernah gue pelajari sangat sangat berguna. Bahasa Inggris berguna untuk ngerjain tugas, karena bahannya rata-rata berbahasa Inggris, dan kadang-kadang tugasnya pun harus dibuat dalam Bahasa Inggris. Kemudian, sering ada kuliah umum dari duta besar atau orang-orang penting dari luar negeri yang notabene menggunakan Bahasa Inggris. Dan lagi, alhamdulillah gue berkesempatan untuk melakukan perjalanan beberapa kali ke beberapa negara untuk ikutan beberapa konferensi, yang tentu saja menggunakan Bahasa Inggris (walaupun truth to be told, gue belum pernah pergi ke negara yang bahasa utamanya adalah Bahasa Inggris, hehe).
Bahasa Jerman tentunya sangat berguna saat gue pergi ke Jerman bulan Mei lalu. Sangat berguna untuk belanja dan saat jalan-jalan, ehehehe. Bahasa Perancis berguna saat gue tiba-tiba secara tidak disengaja bertemu dengan 4 mahasiswa Perancis asuhan salah satu dosen gue di HI (walaupun gagap banget Bahasa Perancis gue, dan ngomongnya pun kadang-kadang doang). Bahasa Jepang? Umm.. Sejauh ini belum banyak gunanya sih. But I believe that learning foreign languages will never ever be useless, at all.
Okay, so, begitulah pengalaman gue belajar bahasa asing hingga hari ini. Dan apakah gue akan berhenti? No way. Buat gue, hidup itu sendiri adalah proses belajar yang nggak pernah usai (well,usai juga sih pas kita meninggal). Yah, begitulah kira-kira gambaran jatuh bangun gue dalam belajar bahasa asing. Yang pasti, gue ingin memantapkan dulu bahasa-bahasa asing yang pernah gue pelajari karena gue nggak mau bahasa-bahasa asing tersebut jadi sia-sia atau bahkan terlupakan. Biarlah rumus-rumus fisika, kimia, dan matematika berlalu dari otak gue, asal jangan kemampuan bahasa asing gue yang menghilang.
Ah, okay, ini sudah jam 1 pagi. *yawn*. Gue ngantuk total. Tidur dulu yaaa. Selamat tidur! Gute Nacht! Oyasuminasai! Selamat malam, semuanya! Good night, everyone. Bonsoir, tout le monde!